Jumat, 30 Juli 2010

“ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN SISTEM N-GEN TERHADAP KELANCARAN KEGIATAN ARUS BONGKAR MUAT PETIKEMAS PADA PT. JAKARTA INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL

TUGAS MANDIRI

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

“ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN SISTEM N-GEN TERHADAP KELANCARAN KEGIATAN ARUS BONGKAR MUAT PETIKEMAS PADA PT. JAKARTA INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK JAKARTA TAHUN 2009”




SKRIPSI



OLEH
MUHAMAD IQBAL
2243 06 035




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan semakin pesatnya teknologi dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang transportasi hal ini menyebabkan banyak pilihan alternatif moda transportasi yang dapat digunakan diantaranya sarana transportasi laut yaitu kapal laut, kapal laut ini banyak digunakan atau dipilih oleh para pengguna jasa karena mempunyai kapasitas atau daya angkut muatan yang cukup besar, serta ongkos angkut yang cukup murah dan terjangkau oleh karena itu pengangkutan barang melalui kapal laut mempunyai prospek yang sangat baik untuk ke depannya.
Didalam era globalisasi ini perkembangan transportasi makin menentukan peningkatan. Dengan keberhasilan dibidang transportasi yang diiringi dengan perkembangan ekonomi dunia yang semakin pesat diikuti oleh semakin luasnya jaringan perdagangan antar Negara ( eksport dan import ), maka telah mendorong terjadinya perpindahan arus barang dan manusia yang semakin tinggi antar wilayah satuan Negara.
Dengan menciptakan transportasi laut yang baik diperlukan keseimbangan antara sarana, prasarana transportasi dan juga harus ditunjang dengan manajemen yang baik, sumber daya manusia yang berkualitas serta ketersediaan alat dan peralatan dengan demikian akan terlaksana suatu sistem dan manajemen transportasi laut yang baik sehingga dapat bersaing.

Sebagai sebuah Perusahaan Bongkar Muat (PBM) atau disebut juga stevedoring company, perusahaan ini bertindak sebagai operator terminal yang khusus melayani pembongkaran dan pemuatan barang-barang yang disimpan dalam petikemas. PT Jakarta International Container Terminal merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa bongkar muat petikemas memiliki sebuah lapangan penumpukan yang begitu luas dan menumpuk petikemas yang dibongkar atau yang akan dimuat ke kapal. PT Jakarta International Container Terminal yaitu suatu unit usaha yang memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan dan kelancaran arus perdagangan dari dan keluarnya melalui pelayanan bongkar muat petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok.
Dalam rangka mewujudkan visi sebagai Terminal Pilihan, PT Jakarta International Container Terminal telah melakukan berbagai langkah penyempurnaan pelayanan. Sistem aplikasi pelayanan yang paling baru dari Hongkong adalah Next Generation (N-Gen). Dengan sistem ini, pelayanan bongkar muat container akan dilakukan sacara lebih cepat, tepat, dan juga akurat. Bagi kelancaran kegiatan bongkar muat petikemas di Jakarta International Container Terminal, sistem ini akan makin mempercepat waktu yang dibutuhkan.
Alat bongkar muat yang digunakan PT Jakarta International Container Terminal yaitu container crane, transtainer atau rubber tyred gantry crane, forklift side dan top loader, head truck, chassis, over high frame, dan spreader telescopic untuk container crane dan rubber tyred gantry crane dalam beroperasi akan berpengaruh kepada produktivitas dalam kegiatan bongkar muat petikemas. Kelancaran kinerja container crane sendiri dipengaruhi oleh umur alat, lama pemakaian alat, perawatan alat, dan profesionalisme SDM termasuk diantaranya koordinasi yang baik dengan pihak terkait sehingga pelayanan menjadi lebih efisien dalam waktu serta harga yang kompetitif. Maka dari itu factor-faktor inilah yang harus diperhatikan oleh pihak-pihak yang terkait untuk menghasilkan produktivitas bongkar muat yang tinggi dan maksimal dalam pengoperasian alat container crane tersebut serta agar dalam mengoperasikannya dapat berjalan dengan cepat, lancar dan aman.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan mengkaji lebih dalam yang selanjutnya dikemukakan dalam bentuk skripsi dengan judul
“ANALISIS PENGARUH PENGGUNAAN SISTEM N-GEN TERHADAP KELANCARAN KEGIATAN ARUS BONGKAR MUAT PETIKEMAS PADA PT. JAKARTA INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK JAKARTA TAHUN 2010”

B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka di dapat beberapa permasalahan sebagai berikut:
a. Belum maksimalnya pemanfaatan sistem N-Gen pada container crane no. 11 dan 12 di Jakarta International Container Terminal
b. Ketidaksiapan dan kurang disiplinnya para pekerja (SDM)
c. Kurangnya fasilitas dan perencanaan perawatan alat-alat operasional bongkar muat serta terbatasnya area bengkel perawatan dan perbaikan
2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan Identifikasi Masalah yang telah diuraikan di atas, maka penulis membatasi pada mencari pengaruh penggunaan sistem N-Gen terhadap kelancaran arus kegiatan arus bongkar muat petikemas dengan menggunakan container crane no.11 dan 12 pada PT. Jakarta International Container Terminal di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta tahun 2010
3. Perumusan Permasalahan
Adapun perumusan masalahan yang penulis bahas dalam skripsi ini yaitu,
a. Bagaimana sistem N-Gen mengakomoditir kegiatan bongkar muat petikemas di PT Jakarta International Container Terminal (JICT) ?
b. Bagaimana pelaksanaan pemanfaatan bongkar muat petikemas di PT Jakarta International Container Terminal (JICT) ?
c. Adakah pengaruh sistem N-Gen terhadap kelancaran kegiatan bongkar muat petikemas di Jakarta International Container Terminal (JICT) ?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
Adapun tujuan penelitian ini bagi penulis yaitu,
a. Untuk mengetahui sistem N-Gen mengakomoditir kegiatan bongkar muat di PT Jakarta International Container Terminal (JICT)
b. Untuk mengetahui pelaksanaan pemanfaatan bongkar muat petikemas di PT Jakarta International Container Terminal (JICT)
c. Untuk mengetahui penggaruh sistem N-Gen terhadap kelancaran kegiatan bongkar muat petikemas di Jakarta International Container Terminal (JICT)
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini yaitu,
a. Bagi penulis
Untuk memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, guna mendapatkan gelar Strata Satu (S1) dalam bidang manajemen transportasi laut dan untuk memperdalam pengetahuan, keterampilan, dan wawasan tentang kepelabuhanan terlebih khusus mengenai pelayanan jasa bongkar muat di PT Jakarta International Container Terminal.
b. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan atau sumbangan pikiran dalam upaya pemecahan permasalahan yang terjadi yang dapat di kategorikan penghambat sekaligus meningkatkan kualitas jasa pelayanan agar dapat memperlancar kegiatan bongkar muat petikemas PT Jakarta International Container Terminal.



c. Bagi Lembaga Pendidikan (STMT Trisakti)
Hasil penelitian ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan kedepannya yang dapat digunakan sebagai bahan bacaan di perpustakaan STMT Trisakti. Khususnya ilmu kepelabuhan
D. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif, yaitu data didapat langsung dari responden yang dikuantitatifkan dengan mengukur indicator menggunakan skala likert, dimana pendapat dan bobotnya dapat dilihat dalam table berikut

Table I.1
Skala Lima (Likert)

Pendapat Skor
Sangat Baik 5
Baik 4
Cukup Baik 3
Kurang Baik 2
Sangat Kurang Baik 1
Sumber : Sugiyono, 2003 : 108
. Sedangkan untuk sumber data yang digunakan adalah data primer, yaitu data yang digunakan kuesioner atau angket atau data langsung diambil dari sumbernya.
2. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan objek keseluruhan yang akan diteliti oleh peneliti yaitu para pengguna jasa, baik pengguna jasa tetap ataupun pengguna jasa tidak tetap yang bekerja sama dengan perusahaan bongkar muat petikemas PT. Jakarta International Container Terminal. Sampel menurut Sugiyono (2005 :73) merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut, adapun teknik sampling yang digunakan adalah sistimatic sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dari penelitian ini mengenai pengaruh penggunaan sistem N-Gen terhadap kelancaran kegiatan bongkar muat petikemas berdasarkan urutan dari anggota populasi yang diberikan kuesioner sebanyak 30 orang pengguna jasa.
3. Metode Pengumpulan Data
a. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Dalam hal ini pengumpulan data yang dilakukan untuk memperoleh landasan teori malalui literatur atau dengan mempelajari buku-buku, jurnal, sumber-sumber tertulis yang diperoleh di perpustakaan yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang dibahas dalam mendukung penyusunan skripsi ini.
b. Penelitian Lapangan (Field Research)
Pengumpulan data dilakukan dengan jalan mengadakan pengamatan/tinjauan-tinjauan lapangan pada objek-objek yang diteliti untuk mendapatkan data primer dengan menggunakan beberapa cara yaitu :
1) Tinjauan Lapangan (observasi) yaitu suatu metode dimana peneliti melakukan pengamatan lansung ke lokasi perusahaan dan pencatatan secara sistematis terhadap kegiatan yang ada dilapangan.
2) Wawancara (interview) yaitu cara memperoleh data dengan melakukan Tanya jawab terhadap pengguna jasa PT.Jakarta International Container Terminal (JICT) di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta guna mendapatkan data-data yang diinginkan.
3) Kuesioner (angket) yaitu untuk pengumpulan data primer dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada 30 orang pengguna jasa mengenai masalah pengaruh penggunaan sistem N-Gen terhadap kegiatan arus bongkar muat petikemas dengan menggunakan crane no.11 dan 12 pada PT.Jakarta International Container Terminal (JICT) tahun 2010 . Skala likert dipakai untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang hal-hal yang berhubungan dengan masalah social. Skor ini juga dibuat untuk menentukan kecenderungan terhadap masing-masing pertanyaan yang di ukur dengan angka. Untuk mendukung alat analisis memenuhi kebutuhan kuesioner, penulis membuat kisi - kisi penelitian ( Tabel 1.2 )





Tabel 1.2
Membuat Format Ksi - Kisi Penelitian

KARATERISTIK KATEGORI UTAMA TIPE KATEGORI
PRODUKTIVITAS TINGKAT UTAMA ITEM PERTANYAAN
PEMANFAATAN
"ANALISIS TANGGAP 1a
PENGARUH KEAHLIAN TERAMPIL 1b
PENGUNAAN DISIPLIN 1c
SISTEM N-GEN PELAYANAN 2a
TERHADAP KELANCARAN PENGAWASAN PENYELESAIAN 2b
KEGIATAN ARUS BONGKAR PENGAWASAN 2c
MUAT PETIKEMAS KERJASAMA SHIPPER & CARRIER 3a
PADA PT. JICT DILUAR JAM KERJA 3b
DI PELABUHAN KONDISI & KEADAAN 4a
TANJUNG PRIOK PEMELIHARAAN KELENGKAPAN ALAT 4b
JAKARTA 2010" PERAWATAN RUTINITAS 4c


KARATERISTIK KATEGORI UTAMA TIPE KATEGORI
PRODUKTIVITAS TINGKAT KELANCARAN UTAMA ITEM PERTANYAAN
QCC 11 & 12
"ANALISIS TANGGAP 1a
PENGARUH SDM TERAMPIL 1b
PENGUNAAN DISIPLIN 1c
SISTEM N-GEN PELAYANAN 2a
TERHADAP KELANCARAN PROSEDUR KERJA PENYELESAIAN 2b
KEGIATAN ARUS BONGKAR PENGAWASAN 2c
MUAT PETIKEMAS KORDINASI PENGANGKUT&PENGGUNA 3a
PADA PT. JICT OPERATIONAL & BM 3b
DI PELABUHAN KONDISI & KEADAAN 4a
TANJUNG PRIOK FASILITAS KELENGKAPAN ALAT 4b
JAKARTA 2010" KONDISI QCC 11 & 12 4c
Tabel 1.3
Membuat Format Alat Ukur Penelitian ( Angket Penelitian )
No TINGKAT PEMANFAATAN SISTEM N-GEN TB KB CB B SB
KEAHLIAN PENGGUNAAN SISTEM N - GEN
1a Tanggap terhadap perawatan sitem N-Gen
1b SDM terampil dalam pengoperasian sistem N-Gen
1c SDM sudah disiplin dalam jadwal operasi sistem N-Gen
PENGAWASAN
2a Pelayanan penanganan BM muatan di dermaga
2b Cara penyelesaian BM bisa terealisasi dengan baik.
2c Pengawasan rutin terhadap jam kerja operasi sistem N-Gen
KERJASAMA
3a Kerjasama dengan pengguna jasa
3b Kerjasama di luar jam kerja
PEMELIHARAAN
4a Kondisi & keadaan mesin sistem N-Gen
4b Perawatan rutinitas

No TINGKAT KELANCARAN QCC 11 & 12 TP KP CP P SP
SDM
1a Tanggap terhadap permasalahan pengurusan barang
1b Keterampilan SDM dalam pengunanaan QCC 11 & 12
1c Kesiapan SDM dalam pelaksanaan BM
PROSEDUR KERJA
2a Tata cara penanganan muatan ke atas kapal
2b Penempatan muatan sesuai dengan Planner
2c Pengawasan rutin terhadap peralatan QCC 11 & 12
KOORDINASI
3a Koordinasi dengan pengguna jasa
3b Koordinasi antar bagian dalam kegiatan BM
FASILITAS
4a Kondisi & keadaan mesin QCC 11 & 12
4b Kelengkapan peralatan BM
4c Keadaan kondisi QCC 11 & 12 yang maksimal




4) Teknis analisis data
Teknik analisis statistik yang akan digunakan penulis dalam rangka penelitian ini akan dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a) Analisis Regresi linear Sederhana
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel X (pengaruh penggunaan sistem N-Gen) terhadap variabel Y (kelancaran kegiatan arus bongkar muat petikemas dengan menggunakan container crane no.11 dan 12) menurut (M. Iqbal Hasan, 2002:250)

Y = a + b X
Untuk menghitung nilai a dan b digunakan rumus sebagai berikut :

b =
Dimana
Y = Variabel terikat (kelancaran kegiatan arus bongkar muat petikemas dengan menggunakan container crane no. 11 dan 12)
X = Variabel bebas (pengaruh penggunaan sistem N-Gen)
a = Bilangan konstanta
b = koefisien regresi
n = Banyaknya observasi

b) Analisis Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi atau r merupakan alat untuk mengetahui apakah variabel X dan variabel Y mempunyai hubungan yang kuat atau lemah, persamaan koefisien korelasi product moment. Menurut (M. Iqbal Hasan, 2002 : 235)

Dalam hal ini :
1) Jika r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara kedua variabel sangat lemah atau tidak terdapat hubungan sama sekali.
2) Jika r = +1 atau mendekati 1, maka hubungan antara kedua variabel dikatakan positif dan sangat kuat.
3) Jika r = -1 atau mendekati -1, maka hubungan kedua variabel tersebut dikatakan negatif dan sangat kuat.
Besaran nilai r berada diantara -1 s/d +1 atau dapat ditulis :
r = -1< r < +1
Agar lebih jelas menginterprestasikan tingkat hubungan tersebut, maka dapat berpedoman pada ketentuan sebagaimana tertuang pada tabel 1.1.



Tabel 1.1
Tingkat Hubungan
Interval Korelasi Tingkat Hubungan
0,00-0,199 Sangat rendah
0,20-0,399 Rendah
0,40-0,599 Sedang
0,60-0,799 Kuat
0,80-1,000 Sangat kuat
Sumber : Sugiyono (2003:214)


c) Analisis Koefisien Penentu (KP)
Analisis ini digunakan untuk mengetahui berapa besar konstribusi atau pengaruh dari variabel X terhadap naik turunnya variabel Y dengan rumus :
Kp = r 2 x 100%
Keterangan :
Kp = koefisien penentu
r2 = koefisien korelasi yang dikuadratkan
d) Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan melalui pendekatan pengujian satu arah dengan cara membandingkan nilai terhitung dengan thitung melalui langkah-langkah sebagai berikut :
1. Hipotesis awal
(a) Ho : = 0, berarti tidak ada pengaruh antara penggunaan sistem N-Gen terhadap kelancaran kegiatan arus bongkar muat petikemas dengan menggunakan container crane no.11 dan 12
(b) H1 : > 0, berarti ada pengaruh antara penggunaan sistem N-Gen terhadap kelancaran kegiatan arus bongkar muat petikemas dengan menggunakan container crane no.11 dan 12
2. Untuk mengetahui nilai thitung digunakan rumus :
thit =
3. Untuk mengetahui nilai ttabel digunakan tabel distribusi t pada ttabel = 0,12 : df = n-2
4. Kesimpulan uji hipotesis
a) Jika t hitung < ttabel, maka Ho diterima dan H1 di tolak, berarti tidak ada pengaruh penggunaan sistem N-Gen terhadap kelancaran arus bongkar muat petikemas dengan menggunakan container crane no.11 dan12
b) Jika t hitung > ttabel, maka Ho di tolak dan H1 di terima, berarti terdapat pengaruh penggunaan sistem N-Gen terhadap kelancaran arus bongkar muat petikemas dengan menggunakan container crane no.11 dan12
E. Hipotesis
Dalam penelitian ini penulis menggunakan hipotesis yang menduga adanya pengaruh yang kuat antara sistem N-Gen terhadap kelancaran kegiatan arus bongkar muat petikemas dengan menggunakan crane no.11 dan 12 pada PT. Jakarta International Container Terminal di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta tahun 2010.

F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi dibuat untuk mempermudah pembaca memahami isi skripsi secara keseluruhan. Skripsi disiapkan dalam 5 (lima) bab dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah yang meliputi identifikasi masalah, pembatasan masalah, dan pokok masalah tujuan dan manfaat penelitian hipotesis metodologi penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Dalam bab ini penulis menguraikan beberapa teori-teori yang digunakan untuk membahas berbagai permasalahan penelitian dan pengertian-pengertian yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini sebagai bahan acuan.
BAB III : GAMBARAN UMUM PT. JAKARTA INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL
Dalam bab ini penulis menguraikan gambaran umum perusahaan mengenai sejarah singkat perusahaan, Visi dan Misi, Struktur Organisasi, dan Ruang Lingkup Operasional
BAB IV : ANALISA DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis menguraikan analisis dan pembahasan tentang permasalahan yang diungkapkan dalam perumusan masalah yaitu, Analisis Pengaruh Penggunaan Sistem N-Gen Terhadap Kelancaran Kegiatan Arus Bongkar Muat Petikemas Dengan Menggunakan Container Crane no.11 dan 12 di PT. Jakarta International Container Terminal.
BAB V : PENUTUP
Dalam bab ini penulis memberikan kesimpulan dari hasil pembahasan pada bab IV dan saran-saran peneliti yang mungkin bermanfaat untuk bahan masukan PT. Jakarta International Container Terminal di masa yang akan datang.



BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian QCC dan Alat Bongkar Muat
Untuk menunjang kelancaran dari setiap operasional baik opersional kapal maupun operasional lapangan, PT. Jakarta International Terminal Container (JICT) selalu membutuhkan alat-alat mekanis yang digunakan untuk kegiatan bongkar-muat. receiving-delivery dan yard operation.
Untuk perkembangan sekarang sudah banyak generasi ke 5 dengan kapasitas lebih dari 10.000 Teus, namun dapat terbilang kapal generasi ke 5 tersebut belum dapat dilayani di pelabuhan di Indonesia dikarenakan fasilitas kolam pelabuhan yang tidak memiliki kedalam yang memadai. Pada pengoperasian generasi kapal-kapal petikemas tersebut dengan generasi peralatan bongkar muat peti kemas khususnya alat bongkar muat container crane.
Quayside Container Crane (QCC) atau disebut juga dengan Gantry Crane ditempatkan secara pemanen di dermaga dan berfungsi sebagai alat utama guna bongkar muat petikemas dari dermaga ke kapal dan sebaliknya.
Pengertian Alat Bongkar muat Menurut Ibid (Hal 12) adalah peralatan yang bekerja secara mekanis, hidrolis maupun elektrik baik terpisah maupun dalam satu tata kerja terpadu untuk melakukan pengangkatan dan pengangkutan didalam lingkungan kerja pelabuhan laut dalam kaitannya dengan kegiatan bongkar muat barang dari kapal ke pelabuhan dan dari pelabuhan ke alat pengangkut darat.
Pentingnya alat bongkar muat bagi pelabuhan merupakan salah satu unsur penting dalam menjalankan roda aktifitas manajemen pelabuhan. Dikatakan demikian karena pelabuhan merupakan perusahaan industri jasa yang melakukan;
a. Menyediakan fasilitas peralatan kerja yang dapat menjamin kelancaran kerja
demi kepuasaan kepada pengguna jasa.
b. Ketersediaan alat bongkar muat adalah cerminan dari performansi pelabuhan
dengan demikian menaikan citra terhadap pelabuhan itu sendiri.
c. Keberadaan alat bongkar muat selalu berinteraksi dengan tuntutan kebutuhan
pelabuhan apalagi dengan berkembangannya teknologi pembuatan kapal
Alat bongkar muat dipelabuhan yang bervariasi diharapkan dapat mencapai tingkat kecepatan dalam pelayanan kapal sehingga kapal yang sedang bersandar dilayani dalam waktu tidak terlalu lama

B. Pengertian Petikemas
Menurut Capt.R.P Suyono (2001 : 263), Petikemas adalah satu kemasan yang dirancang secara khusus dengan ukuran tertentu,dapat dipakai berulang kali, dipergunakan untuk menyimpan dan sekaligus mengangkut muatan yang ada didalamnya.
Selanjutnya menurut ISO (International Standart Organization) mengenai petikemas yaitu suatu benda panjang yang tahan terhadap cuaca untuk dipergunakan dalam pengangkutan dan menyimpan sejumlah unit barang muatan (unit loads) dalam kemasan sejumlah barang-barang curah lainnya, dimana benda di maksud mampu untuk diisi serta melindungi isinya tersebut dari berbagai macam kerusakan dan kehilangan dan mudah dipindah-pindahkan dari satu sarana angkutan ke sarana angkutan yang lain dan diperlakukan sebagai satu unit muatan dan transit (dilanjutkan) tanpa harus mengeluarkan isi petikemas bersangkutan.
Syarat ISO dari container adalah :
a. Secara pisik permanent, kuat untuk beberapa kali pemakaian
b. Dirancang khusus untuk dipergunakan pada setiap pengangkutan atau pengiriman barang baik dengan menggunakan satu atau beberapa jenis sarana angkutan.
c. Mampu untuk dipindah-pindahkan dari sarana angkutan ke sarana angkutan yang lainya dengan mudah.
d. Mudah untuk diisi dan dikosongkan.
"Container adalah setiap wadah dimana didalamnya dapat dihimpun atau disimpan sejumlah barang, baik itu cairan atau bahan padat" Abbas Salim (2006 : 145)
"Petikemas sebagai gudang yang dapat dipindahkan (removable warehouse) yang digunakan untuk mengangkut barang dan merupakan perangkat perdagangan" F.D.C Sudjatmiko (1995 : 173)
Dikatakan pula oleh R.P. Suyono (2005 : 263) dalam bukunya Shipping Pengangkutan Intermodal Ekspor-Impor Melalui Laut yang dimaksud dengan petikemas adalah:
"Petikemas adalah suatu kemasan yang dirancang secara khusus dengan ukuran tertentu, dapat dipakai berulang kali, dipergunakan untuk menyimpan dan sekaligus mengangkut muatan yang ada didalamnya".
"Jenis kemasan yang pemakaiannya sudah sangat luas dan dapat mengangkut muatan lebih banyak dari berbagai pemilik barang, mudah dalam pengawasan dan penyimpanan di kapal atau di tempat penumpukan" Arwinas Dirgahayu (1999 : 51)
"Petikemas adalah suatu kotak besar terbuat dari bahan campuran baja dan tembaga (anti karat) dengan pintu yang dapat terkunci putar" Soedjono Kramadibrata (2002 : 280)
Menurut Amir MS (1997 : 41) yang dikutip dari Customs Convention on Containers 1972 yang dimaksud dengan container adalah alat untuk mengangkut barang yang:
1. Seluruh atau sebagian tertutup sehingga berbentuk peti atau kerat dan di maksud untuk diisi barang yang akan diangkut.
2. Berbentuk permanen dan kokoh sehingga dapat dipergunakan berulang kali untuk pengangkutan barang.
3. Dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan pengangkutan barang dengan suatu kendaraan tanpa terlebih dulu dibongkar kembali.
4. Dibuat sedemikian rupa untuk langsung dapat diangkut, khususnya apabila dipindahkan dari satu ke lain kendaraan.
5. Dibuat sedemikian rupa sehingga mudah diisi dan dikosongkan.
Pengertian lain mengenai petikemas dikemukakan M. Noch Idris Ronosentono (2006 : 332) dengan pendapatnya yaitu: "Suatu pembungkus besar yang dibangun kokoh dan dipergunakan untuk menyimpan, mengangkut sejumlah barang, melindungi serta menjamin distribusinya secara efisien dan lancar setiap waktu yang diperlukan"

Dari beberapa pengertian diatas maka, penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan petikemas adalah suatu peti besar bersifat permanen yang terbuat dari bahan campuran anti baja yang didalamnya dapat diisi muatan cair atau muatan padat, dan dapat dipergunakan berulang kali serta mudah dipindahkan dari satu moda ke moda yang lainnya.

C. Jenis dan Ukuran Petikemas
Jenis-jenis petikemas menurut R.P. Suyono (2005:278) yang digunakan dalam kegiatan ekspor-impor dalam bukunya Shipping Pengangkutan Intermodal Ekspor-Impor Melalui Laut terbagi atas 6 (enam) jenis yaitu sebagai berikut:
1. GENERAL CARGO
a. General Purpose Container
b. Open Side Container
c. Open Top Container
d. Ventilated Container ( untuk muatan berkadar air tinggi/basah atau bau / mudah rusak )
2. THERMAL CONT. ( dilengkapi pengatur suhu )
a. Insulated Container ( udara luar tidak berpengaruh )
b. Reefer Container ( dilengkapi mesin pendingin )
c. Heated Container ( dilengkapi pemanas )
3. TANK CONT. ( tangki dilindungi kerangka besi, untuk muatan cair/gas )
4. DRY BULK CONT. ( masuk dari 3 lubang diatas dan satu lubang di bawah )
5. FLATFORM CONT. ( berlantai dasar yang kuat / kokoh )
a. Flat Rack Container ( lantai dasar dan dinding penahan muka – belakang ) untuk mesin atau barang berat yang tingginya > 8¹6"
b. Flat Form Based Container atau Artificial Tween Deck ( hanya ada lantai dasar yang kuat atau dilengkapi dinding yang bisa dilepas ) untuk barang yang lebar dan tingginya lebih dari ukuran container.
6. SPECIAL CONT.
a. Cattle Cont : dilengkapi lubang dan tempat makan ternak pada satu sisi
b. Auto Cont. : dilengkapi kerangka kuat untuk satu/dua mobil
c. Hanging Garment Cont. : dilengkapi gantungan untuk pakaian jadi
d. Hanging Meat Rail Cont. : dilengkapi gantungan daging dan bermesin pendingin
e. Pint Cont. : untuk muatan hidup / tumbuhan
f. Special for Dangerous Cargo
g. Special for Valueable Cargo ( muatan berharga )


D. Pengunaan Alat Bongkar Muat.
Untuk menunjang kelancaran dari setiap operasional baik opersional kapal maupun operasional lapangan, PT. Jakarta International Terminal Container (JICT) selalu membutuhkan alat-alat mekanis yang digunakan untuk kegiatan bongkar-muat. receiving-delivery dan yard operation.
Berdasarkan dari teori diatas yang dimaksud dengan penggunaan alat yang dioperasikan secara terus menerus dalam periode tertentu guna menunjang kegiatan opersional di terminal peti kemas tidak terlepas dari pada tersedianya alat bongkar muat dan alat penunjang di lapangan.
Jenis dan tipe peralatan bongkar muat petikemas berdasarkan evolusi kapal peti kemas (container ship evolution), yang menjadi dasar pertimbangan penentuan alat bongkar muat dan sistem pengoperasian alat-alat bongkar muat peti kemas.
Berkembangnya teknologi dan timbulnya pemikiran untuk lebih efisiensi dalam pengangkutan barang dan dipengaruhi pesatnya perkembangan angkutan barang melalui laut terutama yang menggunakan peti kemas. Dapat mengurangi biaya transportasi maka dibuatlah kapal-kapal yang dapat mengangkut petikemas dalam jumlah yang lebih banyak, hal ini tentunya mempengaruhi evolusi kapal-kapal petikemas yang dipengaruhi oleh perdagangan karena semakin banyak suatu kapal membawa banyak petikemas otomatis akan menghemat biaya, waktu dan perputaran barang diseluruh dunia lebih cepat sehingga pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat dipengaruhinya, kapal-kapal petikemas dapat dibagi sesuai generasinya dari kapsitas kecil ke kepasitas yang lebih besar seperti yang terdapat pada tabel.
Untuk perkembangan sekarang sudah banyak generasi ke 5 dengan kapasitas lebih dari 10.000 Teus, namun dapat terbilang kapal generasi ke 5 tersebut belum dapat dilayani di pelabuhan di Indonesia dikarenakan fasilitas kolam pelabuhan yang tidak memiliki kedalam yang memadai.
Setelah mengetahui berbagai generasi kapal dan alat container crane, maka suatu Terminal peti kemas dapat mempertimbangkan crane container mana yang akan dipilih dalam pengoperasiannya sesuai dengan generasi kapal yang sedang berkembang pada saat ini dan yang menjadi pengguna jasa pada terminal Petikemas yang bersangkutan. Dalam sistem pengoperasian peralatan bongkar muat yang menjadi dasar dalam penentuan alat bongkar muat yang akan digunakan antara lain:
1. Kemampuan alat, ditinjau dari beberapa hal, yaitu:
a. Performansi dan sistem operasi, sejauh mana tingkat kinerja yang dapat dihasilkan oleh alat tersebut dalam sistem operasional petikemas dalam menuunjang kegiatan bongkar muat.
b. Tempat dan lingkungan dimana alat beroperasi, kenyamanan alat tersebut pada saat operasi agar tidak terjadi tabrakan (clash) antara alat yang satu dengan yang lainnya.
c. Tingkat penggunaan dan standar utilisasi, menentukan tingkat utilisasi dalam standar opersional per hari atau per bulan atau per tahun sehingga alat dapat mencapai kesiapan opersional.
d. Faktor keamanan alat (safety factor), berapa tingkat beban yang dapat diangkat oleh alat tersebut.
2. Kemampuan teknik, ditinjau dari beberapa hal:
a. Keandalannya, seberapa lama alat yang digunakan dalam opersional tidak mengalami gangguan teknis.
b. Standar perawatan yang lebih rendah dan mudah, menentukan standar waktu perawatan yang lebih cepat dan tidak berbelit-belit dalam pelaksanaan perawatan.
3. Komersial, ditinjau dari beberapa hal:
a. Harga relatif lebih rendah di banding alat yang sama dengan standar kemampuan dan spesifikasi yang sama.
b. Pengadaan suku cadang yang lebih mudah, suku cadang atau spare part alat tersebut disediakan seseuai kebutuhan prioritas.
c. Term pembayaran yang lebih ringan, apabila dalam membeli alat tersebut dalam jangka waktu tertentu agar lebih ekonomis.
d. Garansi dan pelayanan purna jual setelah barang dibeli lebih menguntungkan, mendapat jaminan terhadap alat yang telah dibeli serta jaminan spare part alat tersebut.
e. Waktu penyerahan lebih cepat, mendapat jaminan penyerahan yang telah disepakati sejak waktu pembelian sehingga tidak terlalu lama.
f. Perawatan selama operasi, membutuhkan perawatan secara teratur dan berkala agar alat tersebut dalam kondisi siap dan tidak cepat rusak.
g. Latihan bagi operator menjadi tanggungan penjual alat bongkar muat.
Disamping itu, masih ada pertimbangan-pertimbangan teknik atau financial lainnya yang dijadikan dasar memilih dan menentukkan peralatan bongkar muat, Seperti halnya PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) didalam mempersiapkan diri menghadapi jumlah kedatangan kapal yang semakin padat dan persaingan dengan operator terminal seperti TPK KOJA, MTI dan OJA Terminal, 3 QCC baru ditahun 2008 dan ditahun 2009 berikut 13 RTGC, 25 Head Truck berikut chasis dan pelebaran CY seluas 15 Hektar dan sudah tentu penambahan personil operator.
Pengelolaan sebuah terminal petikemas, ada beberapa sistem pengoperasian terminal petikemas yang diterapkan sesuai dengan fasilitas dari kondisi terminal yang bersangkutan antara lain; chassis sistem, straddle carrier sistem, back up gantry crane sistem, forklift sistem, matson sistem dan delta terminal sistem.
Agar siklus operasional bongkar muat berjalan lancar sebagaimana dimaksud diatas, maka diperlukan suatu komposisi yang tepat antara komposisi penggunaan alat dan operator sehingga target operasional bongkar muat itu sendiri dapat tercapai. Pada tabel 2.3 telah diuraikan perbandingan komposisi penggunaan alat dengan kebutuhan personel berdasarkan Surat Keputusan Direksi Pelabuhan Indonesia II No. HK.56/2/4/P.I.II-2000 tentang Pengelolaan Alat.

E. Pengertian Sistem
Dalam era perkembangan globalisasi dan teknologi yang semakin pesat membuat dunia seakan dalam genggaman, ini dimungkinkan dengan kian majunya teknologi yang membuat semua menjadi serba cepat dengan memanfaatkan teknologi maju. Salah satu tantang yang dihadapi oleh suatu perusahaan adalah bagaimana perusahaan mampu menciptakan produktivitas yang tinggi dengan memanfaatkan semua kecanggihan teknologi secara efektif dan efisien. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketergantungan perusahaan pada sistem komputer dan teknologi informasi yang bermutu tinggi semakin diraskan kebutuhannya.
Di dalam mendefinisikan sistem terdapat dua kelompok pendekatan, yaitu yang pertama melalui pendekatan yang menekankan pada prosedurnya dan yang kedua melalui pendekatan yang menekankan pada komponen atau elemen sistem.
H.M. Jogiyanto (2003:34), mendefinisikan sistem dengan pendekatan yang menekankan pada prosedur adalah:
“Sekumpulan dari prosedur-perosedur yang saling berhubungan untuk melakukan kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu tujuan tertentu”.
Sedangkan pengertian sistem melalui pendekatan yang menekankan pada komponen atau elemen sistem menurut H.M. Jogiyanto (2003:34), adalah:
“Kumpulan dari komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk satu kesatuan untuk mencapai tujuan tertentu”.
Secara luas definisi sistem melalui pendekatan yang menekankan pada komponen atau elemen pada dasarnya dapat diartikan juga sebagai sub sistem atau juga bagian dari sistem, padahal dalam sub sistem itu juga termasuk didalamnya unsur prosedur.
Menurut Raymod Mc Leod yang diterjemahkan oleh Hendra Teguh (2001:11), yang dimaksud dengan sistem adalah:
“Sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan”.
Sedangkan pengertian sistem menurut Gordon B. Davis dan Margrethe H. Olson (1985:270), adalah:
“System is a set of elements which operate together to accomplish an objective”. Artinya sistem adalah sekumpulan dari elemen yang bekerja sama untuk menyelesaikan suatu tujuan”.
Menurut H.M. Jogiyanto (2006:4) sistem adalah:
“Jaringan dari pada elemen-elemen yang saling berhubungan membentuk satu kesatuan untuk melaksanakan suatu tujuan pokok dari sistem tersebut”.
Sedangkan menurut Slamet B. Noor (1984:392), sistem adalah:
“Sekelompok metode, prosedur, teknik atau objek yang berhubungan, terorganisir atau saling berkaitan satu sama lain membentuk kesatuan secara keseluruhan”.
Pendapat lain mengenai pengertian sistem dikemukakan oleh Lucas (1987:5):
“Sistem adalah suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen, atau variable-variable yang terorganisasi, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain dan terpadu”.
Menurut Oemar Hamalik (1993:19) sistem adalah:
“Suatu keseluruhan atau totalitas yang terdiri dari bagian-bagian atau sub-sub sistem atau komponen-komponen yang saling berinterelasi dan berinteraksi satu sama lain dan dengan keseluruhan itu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.
Azhar Susanto (2004:18) mengemukakan bahwa sistem adalah:
“Kumpulan atau group dari sub sistem/bagian/komponen apapun baik phisik ataupun non phisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan tertentu”.
Menurut Ludwig (1980:130) sistem adalah:
“Seperangkat unsur-unsur yang terkait dalam suatu antar relasi di antara unsur-unsur tersebut dan dengan lingkungan”.
Sedangkan menurut Onong Uchjana Effendy (1989:353) sistem adalah: “Suatu totalitas himpunan bagian-bagian atau sub-sub sistem yang satu sama lain berinteraksi dan bersama-sama beroperasi mencapai suatu tujuan tertentu di dalam suatu lingkungan”.
Robert G Murdick (1993:6) mengemukakan bahwa pengertian sistem adalah:
“Seperangkat elemen yang digabungkan satu dengan lainnya untuk suatu tujuan bersama”.
Menurut Tata Sutabri (2005:1) pengertian sistem adalah:
“Suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen, atau variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain dan terpadu”.
Menurut Anatol Rapoport (1980:130) sistem adalah:
“Suatu kumpulan kesatuan dan perangkat hubungan antara satu sama lain”.
Pendapat lain mengenai pengertian sistem dikemukakan Bob Widyahartono (1992:139):
“Sistem adalah suatu kumpulan prosedir-prosedir, proses-proses, metode-metode, rutin-rutin, atau teknik-teknik yang dipersatukan oleh beberapa bentuk interaksi yang diatur untuk membentuk suatu kesatuan terorganisir”.
Menurut L. Ackof (1980:131) sistem adalah:
“Setiap kesatuan, secara konseptual atau fisik, yang terdiri dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lain”.
Menurut John A. Beckett (1980:131) sistem adalah:
“Kumpulan sistem-sistem yang berinteraksi”.
Menurut Gordon B. Davis (1997:68) merupakan pengertian sistem adalah:
Susunan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan yang beroperasi bersama untuk mencapai tujuan”. Dengan kata lain, “Suatu sistem bukanlah merupakan suatu perangkat unsur-unsur yang dirakit secara sembarangan tetapi terdiri dari unsur-unsur yang dapat diidentifikasikan sebagai kebersamaan yang menyatu disebabkan tujuan atau sasaran yang sama.

Sementara Lukman Ali (1999:950) Mendefinisikan:
“Sistem adalah perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas”.
Dari beberapa definisi sistem di atas jelas bahwa sistem saling berhubungan, terikat, dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Penulis dapat menyimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan atau kesatuan dari beberapa unsur atau elemen yang bekerja saling berhubungan dan terkait antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

F. Pengertian Sistem Next Generation ( N-Gen )
Menurut Jakarta Internasional Container Terminal ( JICT 2009) Dalam rangka mewujudkan visi sebagai terminal pilihan, JICT telah melakukan berbagai langkah penyempurnaan pelayanan. Sistem aplikasi pelayanan yang paling baru adalah Next Generation ( N-Gen ) yang dioperasikan pada tanggal 9 september 2009 di JICT. Dengan sistem ini, pelayanan bongkar muat petikemas akan di lakukan secara lebih cepat. Bagi para pengemudi truck yang melakukan aktivitas bongkar muat di JICT, sistem ini akan makin mempercepat waktu yang di butuhkan. Selain JICT, hingga saat ini belum ada satu pun terminal petikemas atau pelabuhan di indonesia yang menerapkan sistem N-Gen. Dengan demikian JICT tidak hanya menjadi terminal petikemas pilihan, tetapi juga menjadi terminal yang menerapkan sistem paling modern.
Sistem N-Gen ialah sistem terbaru yang berasal dari Hongkong yang di pakai di jakarta international container terminal dengan sistem komputerisasi, untuk memberikan pelayanan secara tepat, cepat, dan akurat dalam memberikan pelayanan kepada para pengguna jasa petikemas ( diskusi on the job training).



G. Teori Produktivitas Bongkar Muat sebagai alat ukur operasional bongkar muat.
Produktivitas dapat diukur melalui indikator output yang merupakan jumlah barang (dalam tonnage) yang di handling dalam periode tertentu seperti per shift, per hari, per bulan atau per tahun. Ada beberapa indikator output yang penting dalam pengukuran kinerja diterminl petikemas yaitu:
1. Indikator output dalam pengukuran kinerja operasional kapal, meliputi :
a. Ship output merupakan banyaknya jumlah petikemas dalam satu hari.
b. Gang output merupakan berapa banyak petikemas dalam satu shift kerja oleh tenaga kerja bongkar muat.
c. Box ship hour merupakan jumlah petikemas yang akan dibongkar muat selama waktu tambat dalam periode tertentu.
2. Indikator output dalam pengukuran kinerja operasional lapangan, meliputi:
a. Yard Throughput merupakan perbandingan jumlah petikemas dilapangan dengan ground slot (20’).
b. YardOcupancy ratio merupakan perbandingan kapasitas tersedia dengan kapasitas terpasang dalam suatu prosentase.
3. Indikator ouput dalam pengukuran kinerja operasi dermaga, meliputi:
a. Box crane hour (BCH) merupakan jumlah petikemas yang akan dibongkar muat dengan menggunakan satu crane dalam periode tertentu.
b. Berth througput merupakan jumlah petikemas ( dalam tonnage) yang di handling disatu dermaga dalam periode tertentu.
c. Berth occupancy ratio merupakan pemakaian dermaga dengan perbandingan jumlah kapal yang sandar dengan jumlah tambatan dalam periode tertentu.
Berkaitan hal-hal tersebut diatas, maka dapat dijelaskan bahwa kinerja operasi kapal dalam pengukuran kinerja operasional tidak lepas dari percepatan kerja alat bongkar muat yang dalam hal ini tidak terlepas dari pada ketersediaan QCC, sehingga arus bongkar muat terhadap jumlah QCC dapat di jadikan suatu hubungan yang akan dibuktikan di bab selanjutnya.






DAFTAR PUSTAKA

Abbas Salim; Manajemen Transportasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006.
Amir MS; Petikemas Masalah dan Aplikasinya, PT. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta, 1997
Arwinas Dirgahayu; Petunjuk Penanganan Kapal dan Barang di Pelabuhan, PT (Persero) Pelabuhan Indonesia II, Jakarta, 1999
Azhar Susanto; Sistem Informasi Manajemen, Konsep dan Pengembangannya, Lingga Jaya, Bandung, 2004.
B. Davis, Gordon; Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen, PPM, Jakarta, 1997.
B. Noor Slamet; Kamus Komputer, CV. Rajawali, Jakarta, 1984.
Bob Widyahartono; Kamus Istilah Komputer, Alumni, Bandung, 1992.
F.D.C. Sudjatmiko; Pokok-Pokok Pelayaran Niaga, Satya Widya, Jakarta, 1997.
M. Noch Idris Ronosentono; Pengetahuan Dasar Tata Laksana Freight Forwarding, Edisi Kedua, CI Informedika, Jakarta, 2006.
G. Murdick Robert; Sistem Informasi Untuk Manajemen Modern, Erlangga, Jakarta, 1993.
Jogiyanto, H. M; Sistem Teknologi Informasi (Pendekatan Terintegrasi, Konsep Dasar, Teknologi, Aplikasi, Pengembangan dan Pengelolaan), Andi, Yogyakarta, 2003.
M. Noch Idris Ronosentono; Pengetahuan Dasar Tata Laksana Freight Forwarding, Edisi Kedua, CI Informedika, Jakarta, 2006.
Oemar Hamalik; Pengelolaan Sistem Informasi, Trigenda Karya, Bandung, 1993.
R.P Suyono; Shipping Pengangkutan Intermodal Ekspor Impor Melalui Laut, Edisi Ketiga, PPM, Jakarta, 2007.
Soedjono Kramadibrata; Perencanaan Pelabuhan, ITB, Bandung, 2002.
Sutiyar; Kamus Istilah Pelayaran dan Perkapalan, Pustaka Beta, Jakarta, 1994.
Tata Sutabri; Sistem Informasi Manajemen, Andi, Yogyakarta, 2005.
Uchjana Effendy Onong; Sistem Informasi Manajemen, Mandar Maju, Bandung, 1989.
Wahyu Hidayat; Pelayanan Barang dan Dermaga, CMTD, Jakarta,2001.




Diktat dan Undang – Undang
Keputusan Menteri Perhubungan, No. KM 33 Tahun 2001, Jakarta, 2001

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar